Minggu, 29 Maret 2015

ANALISIS TUGAS SCANDURA DAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Era globalisasi abad milenium membawa dampak bagi tatanan kehidupan yang ditandai dengan meningkatnya persaingan yang tinggi sehingga menuntut sumber daya manusia yang ada untuk mampu menghadapi arus globalisasi. Oleh karena itu, Indonesia sedang mempersiapkan diri dalam menjawab tantangan globalisasi dengan membangun basis pendidikan, sebab dengan baiknya basis pendidikan dapat diharapkan mempunyai daya saing yang tinggi dan memperkuat jati diri serta kepribadian bangsa.
Banyak usaha telah dilakukan oleh para ilmuwan pembelajaran dalam mengklasifikasi variable - variabel pembelajaran yang menjadi perhatiannya. Terutama bila dikaitkan dengan teori pembelajaran. Dari sekian teori pembelajaran tersebut pada prinsipnya dikelompokkan kedalam empat kelompok. Aliran tersebut didasarkan pada kesamaan teori dasar yang terdapat pada masing - masing teori. Salah satu yang paling rinci dan sangat memadai sebagai landasan pengembangan suatu teori dikemukakan oleh Reigeluth, dkk  (1977). Pada mulanya mereka memperkenalkan empat variable yang menjadi titik perhatian ilmuwan pembelajaran, yaitu :(1) Kondisi pembelajaran, (2) Bidang studi, (3) Strategi pembelajaran dan (4) Hasil pembelajaran.
Variabel - variabel yang dikelompokkan kedalam kondisi pembelajaran adalah karakteristik pembelajaran, karakteristik lingkungan pembelajaran, dan tujuan instruksional. Variable bidang studi mencakup karakteristik isi/ tugas. Variable hasil pembelajaran mencakup semua efek yang dihasilkan dari pembelajaran, apakah itu pada diri pembelajar, lembaga, termasuk juga pada masyarakat.
Dalam strategi pembelajaran, dikenal strategi pembelajaran berbasis teori belajar structural yang dikembangkan oleh Scandura. Teori ini dipakai untuk menunjukkan keterkaitan isi bidang studi adalah information-processing approach to task analysis. Tipe hubungan procedural ini memberikan urutan dalam menampilkan tugas - tugas belajar. Berbeda dengan hubungan prasyarat belajar yang memberi petunjuk pada pengetahuan mana yang harus dipelajari terlebih dahulu. Hubungan procedural menunjukkan bahwa seseorang dapat mempelajari langkah terakhir dari suatu prosedur pertama kali, tetapi dalam unjuk kerja ia tidak dapat mulai dari langkah terakhir. Gropper (1973), dan Scandura (1973) adalah orang - orang yang pertama kali menekankan pentingnya hubungan jenis ini dalam pengorganisasian pembelajaran pada tingkat makro.


B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas antara lain:
1.      Bagaimana teori belajar Scandura?
2.      Apa yang dimaksud dengan Analisis Tugas Scandura?
3.      Bagaimana pembelajaran Konstruktivisme?

C.    Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui teori belajar Scandura
2.      Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Analisis Tugas Scandura.
3.      Menjelaskan pembelajaran Konstruktivisme.

D.    Manfaat Pembahasan
Adapun manfaat yang diambil dari pembahasan “Analisis Tugas Scandura dan Pembelajaran Konstruktivisme” adalah menambah khazanah pengetahuan tentang teori belajar dan pembelajaran untuk dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Belajar Scandura
Teori belajar Scandura dikenal dengan istilah teori belajar Struktural (TBS). Teori ini memberi perhatian utama pada: (1) Spesifikasi apa yang harus dipelajari pebelajar (sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan), (2) Karakteristik pebelajar, dan (3) proses interaksi yang terus - menerus antara guru dengan pebelajar, berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan (Reigeluth. 1983 :227).
Landasan teori belajar structural ini adalah psikologi kognitif. Teori Scandura ini sebagai teori pembelajaran, banyak memberi perhatian pada segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pembelajaran, strategi pembelajaran dan prosedur pengembangan pembelajaran. System pembelajaran ala Scandura ini lebih menekankan pada hubungan yang penting sekali antara isi (content), kognisi (cognition), dan perbedaan individual dalam konteks pembelajaran.

Ø  Prototipe Strategi Pembelajaran berdasarkan Teori Belajar Struktural.
Langkah inti Teori Belajar Struktural dalam perancangan pembelajaran adalah mengidentifikasi : (1) tujuan pendidikan yaitu apa yang dapat dilakukan pebelajar setelah mengikuti pelajaran, dan (2) proses-proses kognitif, yaitu bagaimana pebelajar melakukan tugas berhubungan dengan tujuan pendidikan. Prototype proses kognitif pada dasarnya menunjukkan apa yang harus dikuasai pebelajar untuk melakukan sesuatu yang diinginkan.
Didalam teori belajar Scandura apa yang harus dipelajari pebelajar satu atau lebih kaidah (rules). Kaidah merupakan konstruksi teoritis yang dapat digunakan untuk mewakili semua jenis pengetahuan manusia. Setiap kaidah terdiri dari suatu aspek atau sejumlah masukan yang dikode (encoded) dan dapat diterapkan suatu rentangan (range) atau keluaran yang tidak dikode yang diharapkan dapat membangkitkan dan terbatas pada tipe procedural yang diterapkan dalam elemen-elemen pada aspek diatas. Selanjutnya teori ini merupakan metode umum untuk menganalisa isi mata pelajaran, yang disebut Analisis Struktural, yang dilakukan dengan menentukan kaidah apa yang dipelajari berdasarkan tujuan pembelajaran.
Langkah pertama memilih suatu masalah yang representative (selecting a representative sample of problem) yang berhubungan dengan tujuan pendidikan. Masalah yang representative dapat didefenisikan sebagai masalah yang dirasakan guru sebagai hal yang paling mewakili bagaimana seorang pebelajar yang berpengetahuan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Langkah kedua mengidentifikasi kaidah-kaidah pemecahan masalah pada setiap masalah yang telah dipilih, meliputi : (1) minimal encoding dan decoding kapabilitas pebelajar (capabilities of the student), (2) analisis ruang lingkup setiap prototype masalah yang representative ( scope of each representative prototive problem), dan (3) identifikasi langkah-langkah (identify the step) yang melibatkan pemecahan setiap masalah kedalam operasi atomic pada setiap pebelajar.
Pengoperasian dan keputusan itu harus bersifat sederhana yang dapat digunakan untuk mengacu hanya pada kemampuan - kemampuan yang diasumsikan dan dimiliki oleh semua pebelajar dalam populasi target (yaitu mengirimkan/ menerima). Disamping sifat sedehana itu pengoperasian harus bersifat atomis yang berarti bahwa setiap pebelajar dalam populasi target memiliki kemapuan untuk menggunakan secara tepat suatu pengoperasian pada soal yang diberikan.
Menurut Scandura (1983) penggunaan teori belajar structural ditekankan pada tujuan merancang pembelajaran melalui analisis mata pelajaran berdasarkan kaidah - kaidah yang lebih tinggi dan hubungan diantaranya. Rancangan yang berisi analis yang lengkap akan mengefektifkan strategi pembelajaran, khususnya berisi : (1) apa yang dapat dikerjakan ( to able to do) pebelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran, dan (2) apa yang harus dipelajari dalam tugas yang dikerjakan.
Diagnosis dan preskripsi pembelajaran dengan analisis structural dilakukan dengan dipecah - pecahnya kaidah kedalam komponen atomis. Hasil analisis digunakan untuk mengidentifikasi bagian mana kaidah yang harus diajarkan secara sendiri - sendiri. Keberhasilan cara ini berimplikasi pada keberhasilan komponen atomis. Demikian pula sebaliknya, rancangan berdasarkan teori belajar structural ini lebih ditekankan pada strategi makro. Artinya strategi makro ini menunjuk pada analisis secara menyeluruh isi pembelajaran, yaitu bagaimana menggabungkan atau mengurutkan atomis (komponen) kaidah.

Ø  Karakteristik, Domain dan Kaidah Teori Belajar Ala Scandura
Selama dua dekade yang lalu pengembangan penting dalam proses pembelajaran secara keseluruhan telah menghubungkan teori dan sistem. Khususnya kemajuan yang signifikan untuk memahami saling berhubungan antara isi, kognisi dan perbedaan individu dalam pembelajaran.
Pengembangan teori belajar structural secara khusus memberi perhatian pada segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pembelajaran, serta membantu menjelaskan peranan model eksplorasi dan penemuan dalam pembelajaran pemecahan masalah seperti dalam matematika. Dalam strategi pembelajaran, teori belajar structural lebih menekankan pada strategi makro, yaitu pada kegiatan memilih (selecting) dan kegiatan mengurutkan (sequencing) dengan perhatian pada makro. Ada tiga hal yang harus dipelajari dan dipahami dalam teori belajar structural, yaitu domain masalah (problem domain), kaidah - kaidah (rules) , dan kaidah yang lebih tinggi (higher of the rules).. Masalah - masalah dalam teori ini memiliki karakteristik berkenaan dengan komponen tertentu, hubungan - hubungan, defenisi operasi pada komponen, hubungan tingkat tinggi dan pengoperasian (Reigeluth, 1983:227).
Prototipe proses yang secara kolektif memungkinkan adanya pemecahan masalah dalam suatu aspek masalah melalui kompetensi kaidah-kaidah. Kompetensi kaidah dari domain masalah adalah tentang apa yang harus dipelajari pembelajar supaya ia mempunyai keahlian dalam isi. Berkaitan dengan kaidah-kaidah (rules) ini, asumsi teori belajar structural bahwa kaidah-kaidah merupakan kompetensi  berdasarkan pada domain masalah yang digambarkan didalam terminologi yang terbatas. Setiap kaidah dapat dipecah-pecah kedalam komponen atomis. Sedangkan keberhasilan lintasan yang dilalui (path) kaidah - kaidah bergantung pada keberhasilan semua komponen atomik.
Kaidah yang lebih tinggi (higher of the rules). Didalam teori belajar structural tidak dikatakan bahwa hanya dengan kaidah yang lebih tinggi cara yang terbaik untuk menggabungkan kaidah yang lebih rendah ada berbagai fenomena behavioral yang dapat dilakukan, yaitu :  belajar kaidah, memecahkan masalah menjadi sub masalah yang meliputi konstruksi hirarki dari sub masalah, pengertian, motivasi, memilih kaidah, defenisi masalah, penyimpanan dan atau retrival dari memori, otomatisasi dan sebagainya.
Secara ekplisit penjelasan mengenai kaidah yang lebih tinggi sebagai suatu yang penting adalah sebagai berikut : (1) kaidah yang lebih tinggi menggambarkan saling berhubungan dalam potensi kreatif, (2) kaidah yang lebih tinggi dapat memberikan semangat pada pebelajar untuk menggambarkan pengetahuan secara individual, (3) kaidah yang lebih tinggi merupakan kaidah yang lebih umum yang dapat dioperasionalkan secara penuh, dan (4) kaidah yang lebih tinggi memudahkan tugas - tugas yang sukar dalam problem yang kompleks, dengan menggunakan struktur analisis.

B.     Analisis Tugas Scandura
Di dalam teori belajar structural, isi pembelajaran secara efektif dikarakterisasikan dalam hal tugas - tugas, atau situasi masalahnya yang diinginkan oleh guru untuk dipelajari oleh pebelajar (atau hal - hal yang berhubungan dengan keefektifan), dan hal ini disebut domain masalah.
Pada analisis struktural ini dapat dirinci melalui bagian secara komprehensif, termasuk konstruksi masalah geometrik, matematika, aljabar dan ilmu hitung. Secara sistematis analisis struktural teori Scandura ini meliputi:
1.      Memilih masalah dan sample yang mewakili;
2.      Identifikasi kaidah - kaidah solusi untuk memecah segenap tugas;
3.      Identifikasi kaidah yang lebih tinggi (higher order rules) yang mencerminkan diantara kaidah solusi yang dikenakan dan menjalankan pada kaidah yang lebih rendah (lower order rules);
4.      Mengeliminasi kaidah yang lebih rendah yang tidak diperkukan oleh kaidah yang lebih tinggi;
5.      Menguji dan memperhalus untuk menghasilkan kaidah pada masalah baru dan domain masalah;
6.      Memperluas kaidah ketika diperlukan kemudian mencatat jenis dan masalah baru dalam domain.
Klasifikasi teori belajar structural tentang preskripsi stragtegi pembelajaran pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 bagian, seperti terlihat pada tabel berikut:

Selection                                                                                             Sequencing
Higher order rules                                                                           Sample path
Rules                                                                                                     Complex path
 
Tabel Analisis Struktural


        


Prinsip - prinsip pembelajaran yang diungkapkan dalam teori Scandura memberikan kontribusi pada teori pembelajaran, yaitu : (1) memilih kaidah yang lebih tinggi, kaidah - kaidah dan komponen atomik dan (2) mengurutkan sederhana ke kompleks. Selanjutnya mengungkapkan tentang: (1) spesifikasi apa yang harus dipelajari, (2) karakteristik dari masalah - masalah kognitif dari pebelajar, dan (3) proses interaksi antara guru dengan pebelajar sesuai tujuan yang ada.

C.    Pengorganisasian Isi Pembelajaran Ala Scandura
Karakteristik struktur isi bidang studi dalam ilmu pembelajaran secara umum diklasifikasi menjadi : (a) struktur orientasi, yang meliputi struktur konseptual, struktur procedural dan struktur teoritik, dan (b) struktur pendukung, meliputi struktur konseptual, teoritik dan struktur belajar. Struktur orientasi merupakan struktur yang sangat penting karena mencakup semua atau sebagian besar dari bidang studi yang akan disajikan dan dipelajari untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sedangkan struktur pendukung merupakan struktur isi bidang studi yang berfungsi sebagai pelengkap untuk pencapaian tujuan belajar struktur orientasi yang disajikan
Strategi pengorganisasian isi ala Scandura dikembangkan berdasarkan pada teori psikologi kognitif. Teori ini beranggapan bahwa sesuatu yang dipelajari manusia itu berasal dari apa yang kita kenal melalui pengamatan, dan pada dasarnya manusia melakukan sesuatu objek dimulai dari keseluruhan bagian, kemudian melakukan pemilihan (selecting) dan mengurutkan (sequencing). Kegiatan belajar menurut teori ini merupakan proses konstruktif yaitu pemerolehan pengalaman yang dikembangkan baru yang dihubungkan dengan struktur kognitif yang sudah ada sehingga membentuk struktur kognitif bartu yang lebih bermakna. Hasil belajar disini merupakan hasil - hasil pengintegrasian antara pengetahuan dengan yang sudah ada melalui proses asimilasi dan proses akomodasi secara terus - menerus sehingga membentuk kognitif baru. Struktur kognitif baru sebagai hasil belajar selanjutnya akan menjadi kaitan pada proses asimilasi dan proses akomodasi berikutnya.
Teori belajar structural yang berpijak pada psikologi kognitif ini berkaitan dengan strategi pengorganisasian isi tingkat makro. Strategi pembelajaran pada tingkat makro mempreskripsikan secara penangaan empat bidang masalah yang disebut Regeluth sebagai 4S, yakni selection, sequencing, synthesizing dan summary. Penekanan teori ini pada strategi pemilihan, mengurutkan, pemakaian kaidah yang lebih tinggi sesuai dengan karakteristik bidang studi (konseptual,procedural) secara optimal sehingga dapat mendukung terjadinya peristiwa belajar bermakna bagi pebelajar. Pengorganisasian isi dengan teori Scandura dilakukan dengan menerapkan prinsip penataan urutan umum ke rinci (general to detailed). Hal ini bermaksud untuk membantu proses modifikasi struktur kognitif dengan menunjukkan hubungan jenis isi yang dipelajari.

D.       Pembelajaran Konstruktivisme
a.      Konstruktivisme
Sebuah reaksi terhadap pendekatan didaktik seperti behaviorisme dan instruksi yang diprogramkan, konstruktivisme menyatakan bahwa belajar adalah sebuah proses aktif membangun pengetahuan dalam konteks daripada memperolehnya. Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman pribadi dan hipotesis lingkungan. Pembelajar terus menguji hipotesis melalui negosiasi sosial. Setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda dan proses konstruksi pengetahuan. yang belajar bukan batu tulis kosong (tabula rasa) tetapi membawa pengalaman masa lalu dan factor - faktor budaya terhadap suatu situasi.
Model pembelajaran konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Konstruktivisme merupakan pandangan filsafat yang pertama kali dikemukakan oleh Giambatista Vico tahun 1710, ia adalah seorang sejarawan Italia yang mengungkapkan filsafatnya dengan berkata ”Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan”. Dia menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu”. Ini berarti bahwa seseorang baru mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu (Suparno, 1997:24).
Filsafat konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia melalui interaksi dengan objek, fenomena pengalaman dan lingkungan mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat Poedjiadi (2005 :70) bahwa “konstruktivisme bertitik tolak dari pembentukan pengetahuan, dan rekonstruksi pengetahuan adalah mengubah pengetahuan yang dimiliki seseorang yang telah dibangun atau dikonstruk sebelumnya dan perubahan itu sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungannya”.  Menegaskan pendapat tersebut, Karli (2003:2) menyatakan konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif yang hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri dan pada akhir proses belajar pengetahuan akan dibangun oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interkasi dengan lingkungannya. Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga diperlukan perubahan/ modifikasi struktur kognitif untuk mencapai keseimbangan, peristiwa ini akan terjadi secara berkelanjutan, selama siswa menerima pengetahuan baru.
Perolehan pengetahuan siswa diawali dengan diadopsinya hal baru sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, kemudian hal baru tersebut dibandingkan dengan konsepsi awal yang telah dimiliki sebelumnya. Jika hal baru tersebut tidak sesuai dengan konsepsi awal siswa, maka akan terjadi konflik kognitif yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan dalam struktur kognisinya. Pada kondisi ini diperlukan alternatif strategi lain untuk mengatasinya.
Berdasarkan pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model konstruktivisme dalam pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental, membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang dimilikinya. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar dan mengajar lebih berfokus terhadap suksesnya siswa mengorganisasi pengalaman mereka. Menurut Werrington (dalam Suherman, 2003:75), menyatakan bahwa dalam kelas konstruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Ketika siswa memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal siswa.
Di dalam kelas konstruktivis, para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi dan penyelesaian, debat antara satu dengan lainnya, berfikir secara kritis tentang cara terbaik untuk menyelesaikan setiap masalah. Beberapa prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis diantaranya bahwa observasi dan mendengar aktivitas dan pembicaraan matematika siswa adalah sumber yang kuat dan petunjuk untuk mengajar, untuk kurikulum, untuk cara-cara dimana pertumbuhan pengetahuan siswa dapat dievaluasi.
Lebih jauh dikatakan bahwa dalam konstruktivis aktivitas matematika mungkin diwujudkan melalui tantangan masalah, kerja dalam kelompok kecil, dan diskusi kelas menggunakan apa yang ’biasa’ muncul dalam materi kurikulum kelas ’biasa’. Dalam konstruktivis proses pembelajaran senantiasa ”problem centered approach” dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang memiliki makna matematika. Beberapa ciri itulah yang akan mendasari pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis.
De Vries dan Kohlberg (Suparno,1997:70) mengikhtisarkan beberapa prinsip konstruktivisme Piaget yang perlu diperhatikan dalam mengajar.
  1. Struktur psikologis harus dikembangkan dulu sebelum persoalan bilangan diperkenalkan. Bila siswa mencoba menalarkan bilangan sebelum mereka menerima struktur logika matematis yang cocok dengan persoalannya, tidak akan jalan.
  2. Struktur psikologis (skemata) harus dikembangkan dulu sebelum simbol formal diajarkan. Simbol adalah bahasa matematis, suatu bilangan tetulis yang merupakan represenatasi suatu konsep, tapi bukan konsepnya sendiri.
  3. Murid harus mendapat kesempatan untuk menemukan (membentuk) relasi matematis sendiri, jangan hanya selalu dihadapkan kepada pemikiran orang dewasa yang sudah jadi.










b.       Ciri - ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip - prinsip konstruktivisme yang diambil adalah:
(1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial;
(2) Pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar;
(3) Siswa aktif mengkonstruksi secara terus - menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah;
(4) Guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Berikut ini akan dikemukakan ciri - ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu sebagai berikut.
  1. Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
  2. Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
  3. Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
  4. Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
Sedangkan menurut Mahisa Alit dalam bukunya menuliskan bahwa cirri - ciri pembelajaran yang konstruktivis adalah sebagai berikut:
  • Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan,
  • Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara,
  • Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep melalui kenyataan kehidupan sehari - hari,
  • Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa - siswa,
  • Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
  • Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga menjadi menarik dan siswa mau belajar (2004:37).

Ø  Teori Belajar yang Mendukung Pendekatan Konstruktivisme
Teori belajar pada dasarnya merupakan suatu teori yang menjelaskan bagaimana siswa-siswa belajar, meliputi kesiapan belajar, proses mental, dan apa yang dilakukan siswa pada usia tertentu.  Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan merupakan hasil bentukan sendiri, oleh karenanya tidak ada transfer pengetahuan dari seorang ke orang lain, sebab setiap orang membangun pengetahuannya sendiri. Bahkan bila guru ingin memberikan pengetahuan kepada siswa, maka pemberian itu diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh siswa sendiri melalui pengalamannya. Untuk terjadinya konstruksi pengetahuan ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki siswa antara lain: kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan, dan kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari pada yang lainnya.
Inti dari konstruktivisme di atas berkaitan erat dengan beberapa teori belajar, yaitu teori perubahan konsep, teori belajar bermakna Ausubel, dan teori Skemata (Suparno, 1997 :49). Namun menurut peneliti pembelajaran konstruktivisme juga berkaitan dengan teori belajar Bruner. Penjelasan dari masing-masing teori tersebut adalah sebagai berikut.

1.      Teori Perubahan Konsep
Teori belajar perubahan konsep merupakan suatu teori belajar yang menjelaskan adanya proses evolusi pemahaman konsep siswa dari siswa yang sedang belajar. Pada mulanya siswa memahami sesuatu melalui konsep secara spontan. Pengertian spontan merupakan pengertian yang tidak sempurna, bahkan belum sesuai dengan konsep ilmiah, dan harus mengalami perubahan menuju pengertian yang logis dan sistematis, yaitu pengertian ilmiah. Proses penyempurnaan pemahaman itu berlangsung melalui dua bentuk yaitu tanpa melalui perubahan yang besar dari pengertian spontan tadi (asimilasi), atau sangat perlu adanya perubahan yang radikal dari pengertian yang spontan menuju pengertian yang ilmiah (akomodasi).
Menurut pendukung teori perubahan konsep, dalam proses belajar ada proses perubahan konsep yang mencakup dua tahap, yaitu tahap asimilasi dan akomodasi (Suparno, 1997: 50). Dengan asimilasi peserta didik menggunakan konsep-konsep yang telah mereka punyai untuk berhadapan dengan fenomena yang baru. Dengan akomodasi peserta didik mengubah konsepnya yang tidak cocok lagi dengan fenomena baru yang mereka hadapi. Proses dalam akomodasi oleh kaum konstruktivis disebut sebagai perubahan konsep secara radikal.
Agar terjadi perubahan konsep secara radikal/ akomodatif maka dibutuhkan keadaan dan syarat sebagai berikut:
  • Harus ada ketidakpuasan terhadap konsep yang telah ada. Peserta didik mengubah konsepnya jika mereka yakin bahwa konsep mereka yang lama tidak dapat digunakan lagi untuk menelaah situasi, pengalaman, dan gejala yang baru.
  • Konsep yang baru harus dimengerti, rasional, dan dapat memecahkan persoalan atau fenomena yang baru.
  • Konsep yang baru harus masuk akal, dapat memecahkan dan menjawab persoalan yang terdahulu, dan juga konsisten dengan teori-teori atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
  • Konsep baru harus berdaya guna bagi perkembangan penelitian dan penemuan yang baru (Suparno, 1997: 50-51).
Menurut kaum konstruktivis, salah satu penyebab terbesar ketidakpuasan terhadap konsep lama adalah adanya peristiwa anomali. Suatu peristiwa yang bertentangan dengan yang dipikirkan peserta didik. Suatu peristiwa di mana peserta didik tidak dapat mengasimilasikan pengetahuannya untuk memahami fenomena yang baru. Misalnya, bagi peserta didik yang berpikir bahwa ”kejujuran” bersifat mutlak (berlaku objektif dan universal), akan menjadi bingung ketika melihat seorang dokter ”berbohong” kepada pasiennya dengan mengatakan bahwa penyakitnya ”agak serius”, kendati kenyataannya sang pasien menderita sakit kangker sudah stadium 4 (kritis sekali), sudah ”amat kritis”. Seorang dokter ”bohong” (tidak jujur) merupakan peristiwa anomali bagi peserta didik tertentu. Peristiwa-peristiwa lain seperti itu akan menantang peserta didik untuk lebih berpikir dan mempersoalkan mengapa pikiran awal mereka tidak benar.
Banyak pendidik budi pekerti, moral, nilai ataupun agama menggunakan data anomali untuk memacu perubahan konsep pada peserta didik. Mereka menyediakan data-data, fakta - fakta dan peristiwa yang memberikan data berbeda dengan keyakinan anak atau prediksi anak. Harus diakui bahwa data anomali kadang kala gagal mendorong perubahan konsep karena para ilmuan dan peserta didik kadang menemukan cara untuk mengabaikan data - data atau fakta - fakta yang berlawanan tersebut. Ada beberapa orang bereaksi terhadap data anomali : (1) mengabaikan dan menolaknya, (2) mengecualikan data itu dari teori yang telah ada, (3) mengartikan kembali data itu, (4) mengartikan kembali data itu dengan sedikit perubahan, dan (5) menerima data itu serta mengubah teori atau konsep sebelumnya.
Teori perubahan konsep membedakan dua macam perubahan yaitu: restrukturisasi kuat (perubahan yang kuat) dan restrukturisasi lemah (perubahan yang lemah). Perubahan yang kuat terjadi bila seseorang mengadakan akomodasi terhadap konsep yang telah ia punyai ketika berhadapan dengan fenomena yang baru. Perubahan yang lemah bila orang tersebut hanya mengadakan asimilasi skema yang lama ketika berhadapan dengan fenomena yang baru. Dengan dua perubahan itu pengetahuan manusia berkembang dan berubah. Untuk memungkinkan perubahan tersebut, diperlukan situasi anomali, yakni suatu keadaan yang menciptakan ketidakseimbangan dalam pikiran manusia atau yang menantang seseorang berpikir.
Vygotsky (Kukla, 2003: 6-10; Fosnot (ed), 1996: 18) membedakan dua macam konsep: konsep spontan dan konsep ilmiah. Konsep spontan diperoleh peserta didik dari kehidupan sehari-hari dan konsep ilmiah diperoleh dari pelajaran di sekolah. Kedua konsep tersebut saling berhubungan terus-menerus. Apa yang dipelajari peserta didik di sekolah mempengaruhi perkembangan konsep yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan sebaliknya. Perbedaan yang mencolok dari kedua konsep itu adalah ada atau tidak adanya sistem. Konsep spontan didasarkan pada kejadian khusus dan tidak merupakan bagian yang bertalian secara logis dari suatu sistem pemikiran, sedangkan konsep ilmiah disajikan sebagai bagian dari suatu sistem. Sehubungan dengan adanya dua konsep tersebut, dianjurkan agar pendidik tidak menolak konsep spontan peserta didik, tetapi membantunya agar konsep itu diintegrasikan dengan konsep yang ilmiah. Hal ini harus semakin disadari oleh pendidik bahwa konsep (spontan ataupun ilmiah) dalam diri seseorang terus berkembang untuk semakin mendekati pemahaman para ilmuan.
Teori perubahan konsep cukup senada dengan teori konstruktivisme dalam arti bahwa dalam proses pengetahuan seseorang mengalami perubahan konsep. Pengetahuan seseorang itu tidak sekali jadi, melainkan merupakan proses berkembang yang terus menerus. Dalam perkembangan itu ada yang mengalami perubahan besar dengan mengubah konsep lama melalui akomodasi, ada pula yang hanya mengembangkan dan memperluas konsep yang sudah ada melalui asimilasi. Proses perubahan terjadi bila si peserta didik aktif berinteraksi dengan lingkungannya.
Konstruktivisme, yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh peserta didik yang sedang belajar, dan teori perubahan konsep, yang menjelaskan bahwa peserta didik mengalami perubahan konsep terus menerus, sangat berperanan dalam menjelaskan mengapa seorang peserta didik bisa salah mengerti dalam menangkap suatu konsep yang ia pelajari. Konstruktivisme dapat membantu untuk mengerti bagaimana peserta didik membentuk pengetahuan yang tidak tepat. Dengan demikian, seorang pendidik dibantu untuk mengarahkan peserta didik dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat. Teori perubahan konsep sangat membantu karena mendorong pendidik untuk menciptakan suasana dan keadaan yang memungkinkan perubahan konsep yang kuat pada peserta didik sehingga pemahaman mereka lebih sesuai dengan pengertian ilmuan.

2.      Teori Skema
Jonassen menjelaskan bahwa skema adalah abstraksi mental seseorang yang digunakan untuk mengerti sesuatu hal, menemukan jalan keluar, atau memecahkan persoalan (dalam Suparno, 1997:55) . Menurut teori skema, pengetahuan itu disimpan dalam suatu paket informasi atau skema yang terdiri atas suatu set atribut yang menjelaskan objek tersebut, maka dari itu membantu kita untuk mengenal objek atau kejadian itu. Hubungan skema yang satu dengan yang lain memberikan makna dan arti kepada gagasan kita.  Belajar menurut teori skema adalah mengubah skema (Suparno, 1997:55). Lebih jauh ia menyatakan: “Orang dapat membentuk skema baru dari suatu pengalaman baru. Orang dapat menambah atribut baru dalam skemanya yang lama. Orang dapat melengkapi dan memperluas skema yang telah dimilikinya dalam berhadapan dengan pengalaman, persoalan, dan juga pemikiran yang baru. Biasanya seseorang bila menghadapi pengalaman baru yang tidak cocok dengan skema yang dimilikinya, ia akan mengubah skema lamanya. Dalam proses belajar siswa mengadakan perubahan skemanya, baik dengan menambah atribut, memperluas, memperhalus, ataupun mengubah sama sekali skema lama
Teori skema berpendapat bahwa pengetahuan itu disimpan dalam suatu paket informasi, atau skema, yang terdiri dari konstruksi mental gagasan kita. Skema adalah abstraksi mental seseorang yang digunakan untuk mengerti sesuatu hal, menemukan jalan keluar, ataupun memecahkan persoalan. Orang harus mengisi atribut skemanya dengan informasi yang benar agar dapat membentuk kerangka pemikiran yang benar. Kerangka pemikiran inilah yang menurut Jonassen dkk. (Suparno,1997: 55), membentuk pengetahuan struktural seseorang, di mana pengetahuan struktural tersebut terdiri dari skema-skema yang dipunyai dan hubungan antara skema - skema itu.
Bagaimana seseorang membentuk dan mengubah skema, hal itu merupakan proses belajar. Orang dapat membentuk skema baru dari suatu pengalaman baru. Orang dapat melengkapi dan memperluas skema yang telah dipunyainya dalam berhadapan dengan pengalaman, persoalan dan juga pemikiran yang baru. Dalam proses belajar seseorang mengadakan perubahan-perubahan skemanya baik dengan menambah atribut, memperhalus, memperluas, ataupun mengubah sama sekali skema lama.
Skemata adalah suatu jaringan hubungan konsep - konsep. Jaringan itu menguraikan apa yang diketahui seseorang dan menyediakan dasar untuk mempelajari konsep-konsep baru, serta memperkembangkan dan mengubah jaringan yang telah ada. Sementara itu pengetahuan struktural seseorang, yang terdiri dari macam - macam skemata dan hubungan antar skemata itu, didasarkan pada teori skema. Pengetahuan struktural adalah pengetahuan akan bagaimana konsep-konsep dalam suatu domain saling terkait. Pengetahuan struktural menjembatani perubahan dari pengetahuan deklaratif ke prosedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan yang mengungkapkan suatu pengertian atau kesadaran akan objek, kejadian atau ide. Dalam pengetahuan ini seseorang dapat menjelaskan apa yang ia ketahui tetapi ia tidak menggunakan apa yang ia ketahui itu.
Menurut teori skema, seseorang belajar dengan mengadakan restrukturisasi atas skema yang ada, baik dengan menambah maupun dengan mengganti skema itu. Ini mirip dengan konstruktivisme Piaget yang menggunakan asimilasi dan akomodasi. Perbedaannya adalah bahwa teori skema tidak menjelaskan proses pengetahuan, tetapi lebih bagaimana pengetahuan manusia itu tersimpan dan tersusun.
Hal lain yang terkait dengan konstruktivisme dan layak untuk diketahui, bahwa konstruktivisme sangat berbeda dan bahkan bertentangan dengan teori belajar behaviorisme. Perbedaan antara kaum behavioris dan konstruktivis dalam hal pengetahuan, belajar dan mengajar sebagai berikut.
  • Menurut kaum behavioris, pengetahuan itu hasil pengumpulan pasif dari subjek dan objek yang diperkuat oleh lingkungannya, sedangkan bagi kaum konstruktivis, pengetahuan itu adalah hasil kegiatan aktif peserta didik yang meneliti lingkungannya. Bagi kaum behavioris, pengetahuan itu statis dan sudah jadi, sedang kagi kaum konstruktivis, pengetahuan itu suatu proses menjadi.
  • Mengajar, bagi kaum behavioris, adalah mengatur lingkungan agar dapat membantu peserta didik. Bagi kaum konstruktivis, mengajar berarti partisipasi dengan peserta didik dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan kejelasan, bersikap kritis, mengadakan justifiksi. Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri, di mana “…teachers begin to construct an understanding of how knowledge develops ” (Fosnot, 1989: 85).
  • Belajar menurut kaum behavioris adalah menerima pengetahuan, keterampilan dan sikap dari pendidik tanpa mengadakan perubahan apa-apa. Setiap peserta didik mempunyai cara yang sama dalam menerima pengetahuan, keterampilan dan sikap tertentu. Pendidik cukup menciptakan satu cara pembelajaran untuk semua peserta didik. Menurut kaum konstruktivis, peserta didik mempunyai cara sendiri untuk mengerti, masing-masing mempunyai cara yang cocok untuk mengkonstruksi pengetahuannya yang kadang sangat berbeda dengan teman dan pendidiknya. Maka pendidik perlu menciptakan berbagai cara pembelajaran untuk membantu peserta didik yang cara belajarnya memang berbeda-beda pula (Suparno, 1997: 62-63).
Kaum behavioris memandang bahwa belajar merupakan sistem respon tingkah laku terhadap rangsangan fisik. Penganut aliran ini berpendapat bahwa mendengarkan dengan baik penjelasan pendidik atau terlibat dalam suatu pengalaman akan berakibat peserta didik dapat mempunyai keterampilan tertentu sesuai dengan apa yang didengarkannya. Keterampilan merupakan tujuan dari suatu tujuan pembelajaran. Peserta didik dipandang sebagai subjek yang pasif, membutuhkan motivasi luar dan dipengaruhi oleh suatu penguatan. Oleh sebab itu para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur baik dan menentukan bagaimana peserta didik harus dimotivasi, dirangsang dan dievaluasi. Kemajuan belajar peserta didik diukur dengan hasil yang dapat diamati.

3.      Teori Belajar Bermakna Ausubel
David Ausubel (Dahar, 1989:112) terkenal dengan teori belajar bermakna (meaningful learning). Belajar bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru kedalam struktur pengetahuan mereka. Ini terjadi melalui belajar konsep, dan perubahan konsep yang telah ada, yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur konsep yang telah dipunyai si pelajar (Suparno, 1997: 54).
Kedekatan teori belajar bermakna Ausubel dengan konstruktivisme adalah keduanya menekankan pentingnya mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dimiliki, keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsep atau pengertian yang sudah dimiliki siswa, dan keduanya mengasumsikan adanya keaktifan siswa dalam belajar.

4.      Teori Belajar Bruner
Menurut Bruner, “pembelajaran adalah proses yang aktif dimana pelajar membina ide baru berasaskan pengetahuan yang lampau”. Selanjutnya Bruner (Nur, 2000:10) menyatakan bahwa “mengajarkan suatu bahan kajian kepada siswa adalah untuk membuat siswa berfikir untuk diri mereka sendiri, dan turut mengambil bagian dalam proses mendapatkan pengetahuan. Mengetahui adalah suatu proses bukan suatu produk”. Masih menurut Bruner (Dahar, 1997:98) bahwa dalam membangun pengetahuan di dasarkan kepada dua asumsi yaitu :asumsi pertama adalah perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif yaitu orang yang belajar akan berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi dilingkungan tatapi juga dalam diri orang itu sendiri.
Asumsi kedua adalah orang yang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang tersimpan yang diperoleh sebelumnya. Menurut Bruner, dalam proses belajar terdapat tiga episode yang harus dilalui anak, yakni (1) informasi, (2) transformasi, (3) evaluasi. Ketiga episode itu dapat dijelaskan sebagai berikut.
  • Informasi. Dalam tiap pelajaran siswa akan memperoleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah dimiliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah diketahui sebelumnya.
  • Transformasi. Informasi harus dianalis, diubah atau ditransformasi kedalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. Dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan.
  • Evaluasi. Informasi yang diperoleh tersebut dinilai untuk dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain. (Nasution, 1987:9).
Dalam memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner adalah memahami konsep, arti, dan hubungan dan sampai pada suatu kesimpulan. “Dengan teorinya free discovery learning, Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya” (Budiningsih, 2005:43).















Tidak ada komentar:

Posting Komentar